Alergi, Krim Racik, dan NuAmoorea

Ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, itulah manusia. Mesti ada cacat cela nya,  baik fisik maupun sifatnya. Kl soal sifat, udah pada tau kan ya, semua org pasti ada kekurangan nya.. Nah, yang mau saya bahas disini adalah ‘cacat’ secara fisik.

Saya terlahir dalam keluarga yang hampir seluruh anggotanya mengidap alergi. Macem-macem bentuknya. Papa selalu bersin berkepanjagan kalo ada debu atau asap lewat walau cuma dikit. Adik saya, kl udara mulai dingin dia pun mulai menggigil dan batuk nggak jelas. Badannya sampe kurus kering. Sempat dikira Bronchitis atau penyakit saluran pernafasan lainnya. Endingnya, alergi juga!

Kakak perempuan saya, selalu meler dan bumpet hidungnya. Dari kecil loh itu! Bahkan saya inget banget, kalo tengah malem dia kumat bumpetnya, nangis sampai menjerit, dan Mama sigap dengan teh panas di tengah malam. Alamak!

Saya? Apa kabar? Saya pun tak kalah unik, bahkan lebih parah! Alergi saya merupakan gabungan dari semua alergi mereka. Batuk dan pilek saat terpapar debu, asap, udara ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), gatel-gatel dikulit saat makan makanan berprotein tinggi atau kena keringat, muncul seperti biduran saat emosi sedang tidak stabil.

Itu aja? Nggak! Semua yg muncul dikulit meninggalkan bekas. Duuuhhhh…mau nangis rasanya kalo inget jaman itu. Dari wajah sampe punggung isinya bekas alergi…Bintik-bintik hitam nggak jelas gitu deh. Mengunjungi dokter kulit, udah jadi semacam ritual bulanan saya. Gonta-ganti dokter, pindah rumah sakit dan klinik, selalu saja jawaban para beliau sama. Alergi tak bisa sembuh! Apalagi yang munculnya karena faktor genetik seperti saya.

Capek? Pastinya! Tapi saya toh tidak menyerah. Saya harus bisa mengatasi alergi, walau tak mungkin menghilangkannya. Satu pertimbangan saya, karena penyebabnya adalah faktor genetik, kemungkinan besar anak-anak saya akan memiliki alergi juga. Dan, memang terbukti itulah yang terjadi. Ampun, deh!

Oke, setelah sekian lama berkutat dengan yg namanya alergi, saya pun mempelajari pemicunya serta berupaya sebisa mungkin untuk menghindari semua faktor alergen (penyebab alergi). Saya rajin olah raga dan menerapkan pola hidup sehat semampu saya. Intensitas kumatnya memang berkurang, tapi masih ada satu masalah besar yang belum teratasi. Bekas alergi itu tadi lho!

Mulailah saya mendatangi skincare dari yang murce sampe yang paling mehong di Yogyakarta. Dimana-mana ya, yang namanya skincare dengan krim racikan dokter kemungkinan besar mengandung kortikosteroid, hydroquinone, dan tretinoin. Apaan sih itu? Ketiganya adalah bahan kimia tentunya. Dari namanya udah ketauan kan? Berbahayakah?

Hhhhmmm… Harus tau dulu kegunaannya apa. Kortikosteroid sebenarnya merupakan obat anti inflamasi, untuk menekan reaksi alergi dan gangguan kulit seperti bengkak, merah dan gatal. Hydroquinone merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi hiperpigmentasi. Itu tuh, bekas jerawat, flek, bekas luka, komedo dan sejenisnya. Tretinoin adalah untuk mengobati jerawat. Sampe sini, kesimpulannya tiga zat kimia diatas adalah obat yang kerjanya mempengaruhi pertumbuhan pada sel kulit.

Mbak-mbak, ibu-ibu, bapak-bapak yang punya isteri maupun mas-mas yang ngerti kesehatan, pasti tau kan kalo ibu hamil tidak disarankan untuk menggunakan obat jerawat dalam bentuk apapun. Kenapa? Ya, karena takutnya membahayakan janin. Obat keras kan berarti. Dari jaman masih ketergantungan sama krim racikan dokter dari skincare ternama di Yogyakarta, saya udah tau krim yang saya pake kemungkinan besar mengandung tiga zat itu.

Saya pun berani nanya ke dokter kulitnya. Dan apa jawabannya? “iya, memang ada. Tapi dalam jumlah sedikit dan masih dalam batas toleransi bagi tubuh. Jadi aman!” . Saya pun melongo! Duuhhh, orang dagang ternyata segitu amat ya. Saya tersinggung loh! Dikira saya nggak bisa mikir apa? Mungkin betul, dalam jumlah sedikit. Kalo dipake cuma sehari masih amanlah… Nah, saya kan sudah pake krim itu hampir sepuluh tahun! Aman dari mana?!

Kebayang aja, sepuluh tahun saya menumpuk bahan kimia berbahaya, tampak luarnya memang kulit saya halus mulus tapi dalamnya ancur. Sedihnyaaa…

Cara kerja ketiga zat diatas memang menekan semua gangguan kulit agar tidak muncul ke permukaan. Menekan alias mencegah, bukan menyembuhkan lho. Dan ibarat tanaman, makin dipangkas makin subur kan? Gitu juga dengan alergi saya. Ada kurun waktu tertentu alergi saya menjadi kebal terhadap krim racikan tersebut, sehingga dokter kemudian menaikkan dosisnya. Gitu terus, bagaikan lingkaran setan tak berujung.

Saya pun menderita. Menderita karena alergi yang tak kunjung reda, bekasnya semakin merajalela,perasaan mangkel karena begitu bergantung pada skincare tersebut, serta pusing memikirkan biaya yang harus saya keluarkan setiap bulannya.

Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Sahabat saya ini seingat saya sejak kuliah wajahnya selalu ada hiasan. Jerawat, bopeng dan juga flek. Kok sekarang mulus cerah ya? Kulit muka yang cerah dan mulus pun terlihat sehat, beda banget dengan mulusnya saya. Dia nggak pake makeup loh. Eh, ternyata katanya dia pake NuAmoorea. Langsung deh karena penasaran saya melakukan ‘riset’  kecil via internet.

Walau kemudian mengetahui NuAmoorea sangat bagus buat kulit, saya masih ragu. Kok bisa? Saya takut purging itu lho permisah! Haduuhhh…sekian lama tempel oles krim racikan, saya bisa menebak kalo purgingnya akan parah. Bisa berbentuk apa saja itu. Bisa keluar semua alergi saya yang selama ini dipaksa ngumpet.

Tapi mau sampai kapan? Waktu terus berjalan, dan saya memilih untuk lebih baik menghadapai purging dari pada kucing-kucingan terus. Apalagi NuAmoorea bukan sabun cuci muka biasa.

NuAmoorea termasuk kategori Nutritional Beauty Bar. Kandungannya luar biasa bagus untuk perawatan segala jenis kulit wajah, baik juga digunakan untuk semua orang segala usia dari bayi hingga lansia, termasuk ibu hamil dan menyusui. Keren kan? Ya dong, karena sudah resmi 100% BPOM dan halal MUI yang pastinya produk Amoorea aman dipakai.

Saya pun mencobanya. Belajar membuat busa. Bisa pake tangan, bisa juga menggunakan alat bantu spon mandi. Saya merasakan juga yang namanya purging atau detoks. Kulit saya menjadi kering banget, gatal, tak ada jerawat tapi wajah  kasar dan kusam. Saya tempel busanya tak hanya di wajah tapi hampir separuh tubuh, dibagian yang paling sering diserang alergi. Sempat ragu ditengah jalan karena kulit menjadi begitu ‘rusak’ kelihatannya.

Tapi dengan hati yang kemudian saya mantapkan, kegiatan tempel busa NuAmoorea tetap saya lakukan. Jangan sampai menyerah sebelum mendapat hasil bukan? NuAmoorea merupakan produk herbal. Dimana-mana, yang namanya herbal, cara kerjanya selalu perlahan namun pasti. Nggak bisa dipaksa harus cepat keliatan hasilnya. Karena itu saya harus sabar, telaten dan menikmati prosesnya. Udah niat banget pengen hilang semua bekas alergi.

Setelah dua bulan pemakaian rutin, bekas alergi saya hilang. Wajah mulus, tubuh pun mulus. Alergi sembuh? Nggak dong! Kan alergi nggak bisa sembuh. Tapi frekuensi munculnya sangat jauh berkurang. Dan kalau pun kumat, dikulit mulai gatal dan ruam, langsung saya tempel busa NuAmoorea  tiga menit, bilas, wajah langsung bersih deh. Gitu aja kok repot.

Bahkan anak-anak saya kl ada ruam, gatal, digigit serangga, langsung saya ajak juga bermain busa NuAmoorea. Besoknya langsung hilang biasanya. Luar biasa banget. Saya megalami begitu tidak menyenangkannya yang namanya gangguan kulit, apapun bentuknya. Saya tidak akan diam saja dan menikmati sendiri hal baik yang sudah saya terima dari produk Nu Amoorea. Saya ingin terus berbagi pada semua orang agar kita sama-sama dapat menikmati hidup tanpa gangguan kesehatan kulit. Because, Sharing is Caring!